TUGAS BULAN 1 / PENALARAN ILMIAH, BERFIKIR DEDUKTIF DAN BERFIKIR INDUKTIF

TUGAS BULAN 1

1.PENALARAN ILMIAH

2.BERFIKIR DEDUKTIF

3.BERFIKIR INDUKTIF

NAMA: ACHMAD REZA DARMAWAN

NPM: 20213094

KELAS: 3EB07


DAFTAR ISI

PENALARAN ILMIAH ……………………………………………………………………. 2

  1. CIRI CIRI PENALARAN …………………………………………………………….. 2
  2. JENIS PENALARAN ………………………………………………………………….. 3
  3. UNSUR PENALARAN ILMIAH ……………………………………………………. 3

BERFIKIRI DEDUKTIF ………………………………………………………………….. 5

  1. JENIS PENALARAN DEDUKTIF …………………………………………………. 6

BERFIKIR INDUKTIF ……………………………………………………………………. 9

  1. JENIS PENALARAN INDUKTIF …………………………………………………. 10

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………… 12


  1. PENALARAN ILMIAH

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

Menurut Minto Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah proses berpikir yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat ilmiah dan tidak ilmiah. Bernalar akan membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktifitas berpikir dan bertindak, manusia mendasarkan diri atas prinsip penalaran. Bernalar mengarah pada berpikir benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang, karena penalaran mendidik manusi bersikap objektif, tegas, dan berani, suatu sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi”.

Jadi, dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa penalaran adalah proses pemikiran yang logis untuk memperoleh kesimpulan berdasarkan fakta yang relevan (sebenarnya).

Ciri-ciri Penalaran:

  1. Adanya suatu pola berpikir yang luas dapat disebut logika.
  2. Sifat analitik dari proses berpikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.

Jenis Penalaran

Minto Rahayu, (2007 : 41), penalaran dapat dibedakan dengan cara induktif dan deduktif.

1)     Penalaran induktif

Merupakan proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena atau gejala individual untuk menurunken suatu kesimpulan (inferesi) yang berlaku umum.

Proses induksi dapat dibedakan menjadi:

  • Generalisasiialah proses berpikir berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan umum mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa.
  • Analogiialah suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan atau inferensi tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan beberapa gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri esensial penting yang bersamaan.
  • Sebab akibat, prinsip umum hubungan sebab akibat menyatakan bahwa semua peristiwa harus ada penyebabnya.

2)     Penalaran deduktif

Ialah proses berpikir yang bertolak dari prinsip, hukum, putusan yang berlaku umum tentang suatu hal atau gejala atas prinsip umum tersebut ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus, yang merupakan bagian dari hal atau gejala diatas.
Unsur Penalaran Penulisan Ilmiah

Menurut Widjono, (2007 : 210), unsur penalaran penulisan ilmiah adalah sebagai berikut:

  1. Topik yaitu ide sentral dalam bidang kajian tertentu yang spesifik dan berisi sekurang-kurangnya dua variabel.
  2. Dasar pemikiran, pendapat, atau fakta dirumuskan dalam bentuk proposisi yaitu kalimat pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya atau kesalahannya.
  3. Proposisi, mempunyai beberapa jenis, antara lain:
  • Proposisi empirik yaitu proposisi berdasarkan fakta.
  • Proposisi mutlak yaitu pembenaran yang tidak memerlukan pengujian untuk menyatakan benar atau salahnya.
  • Proposisi hipotetik yaitu persyaratan huungan subjek dan predikat yang harus dipenuhi.
  • Proposisi kategoris yaitu tidak adanya persyaratan hubungan subjek dan predikat.
  • Proposisi positif universal yiatu pernyataan positif yang mempunyai kebenaran mutlak.
  • Proposisi positif parsial yaitu pernyataan bahwa sebagian unsur pernyataan tersebut bersifat positif.
  • Proposisi negatif universal, kebalikan dari proposisi positif universal.
  • Proposisi negatif parsial, kebalikan dari proposisi negatif parsial.
  1. Proses berpikir ilmiahyaitu kegiatan yang dilakukan secara sadar, teliti, dan terarah menuju suatu kesimpulan.
  2. Logika yaitu metode pengujian ketepatan penalaran, penggunaan argumen (alasan), argumentasi (pembuktian), fenomena, dan justifikasi (pembenaran).
  3. Sistematika yaitu seperangkat proses atau bagian-bagian atau unsur-unsur proses berpikir ke dalam suatu kesatuan.
  4. Permasalahan yaitu pertanyaan yang harus dijawab (dibahas) dalam karangan.
  5. Variabelyaitu unsur satuan pikiran dalam sebuah topik yang akan dianalisis.
  6. Analisis (pembahasan, penguraian) dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, mencari hubungan (korelasi), membandingkan, dan lain-lain.
  7. Pembuktian (argumentasi) yaitu proses pembenaran bahwa proposisi itu terbukti kebenarannya atau kesalahannya. Pembuktian ini harus disertai dukungan yang berupa: metode analisis baik yang bersifat manual maupun yang berupa software. Selain itu, pembuktian didukung pula dengan data yang mencukupi, fakta, contoh, dan hasil analisis yang akurat.
  8. Hasil yaitu akibat yang ditimbulkan dari sebuah analisis induktif atau deduktif.
  9. Kesimpulan (simpulan) yaitu penafsiran atas hasil pembahasan, dapat berupa implikasi atau inferensi.
  1. BERFIKIR DEDUKTIF

Berfikir Deduktif adalah suatu metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagian yang khusus. Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari pernyataan yang bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus.

Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Contoh :

  • Semua mahluk akan mati.
  • Manusia adalah mahluk.
  • Karena itu semua manusia akan mati.

Dapat disimpulkan secara lebih spesifik bahwa argumen berpikir deduktif dapat dibuktikan kebenarannya. Kebenaran konklusi dalam argumen deduktif bergantung pada dua hal, yaitu kesahihan bentuk argumen berdasarkan prinsip dan hukumnya; dan kebenaran isi premisnya berdasarkan realitas. Sebuah argumen deduktif tetap dapat dikatakan benar berdasarkan bentuknya, meskipun isinya tidak sesuai dengan realitas yang ada; atau isi argumen deduktif benar menurut realitas meskipun secara bentuk ia tidak benar.

Jenis Penalaran Deduktif:

Jenis penalaran deduktif yang menarik kesimpulan secara tidak langsung yaitu:

  1. Silogisme Kategorial

Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya Menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.

Contoh :

  • Premis Mayor : Tidak ada manusia yang abadi
  • Premis Minor : Socrates adalah manusia
  • Kesimpulan : Socrates tidak abadi
  1. Silogisme Hipotesis

Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Menurut Parera (1991: 131) Silogisme hipotesis terdiri atas premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Akan tetapi premis mayor bersifat hipotesis atau pengadaian dengan jika konklusi tertentu itu terjadi, maka kondisi yang lain akan menyusul terjadi. Premis minor menyatakan kondisi pertama terjadi atau tidak terjadi. Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotesis:

a. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagian antecedent, seperti:

  • Jika hujan, saya naik becak.
  • Sekarang hujan.
  • Jadi saya naik becak.

b. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengakui bagiar konsekuennya, seperti:

  • Bila hujan, bumi akan basah.
  • Sekarang bumi telah basah.
  • Jadi hujan telah turun.

c. Silogisme hipotesis yang premis minornya mengingkari antecedent, seperti:

  • Jika politik pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul. Politik pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa, Jadi kegelisahan tidak akan timbul.

Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya, seperti:

  • Bila mahasiswa turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah Pihak penguasa tidak gelisah. Jadi mahasiswa tidak turun ke jalanan.
  1. Silogisme Alternatif

Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain. Proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya. Konklusi tergantung dari premis minornya.

Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti sempit dan silogisme disyungtif dalam arti luas. Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif, seperti:

  • la lulus atau tidak lulus.
  • Ternyata ia lulus Jadi, la bukan tidak lulus

Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayomya mempunyai alternatif bukan kontradiktif, seperti:

  • Ia di rumah atau di pasar.
  • Ternyata tidak di rumah.
  • Jadi, di pasar

Silogisme disyungtif dalam arti sempit maupun arti iuas mempunyai dua tipe yaitu:

  • Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusi-nya adalah mengakui alternatif yang lain.
  • Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain.
  1. Entimen

Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun tulisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan. Entimen atau Enthymeme berasal dari bahasa Yunani “en” artinya di dalam dan “thymos” artinya pikiran adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan dalam sebuah entimem, penghilangan bagian dari argumen karena diasumsikan dalam penggunaan yang lebih luas, istilah “enthymeme” kadang-kadang digunakan untuk menjelaskan argumen yang tidak lengkap dari bentuk selain silogisme.

Contoh Rumus Entimen:

  • PU: Semua A = B : Pegawai yang baik tidak pernah datang terlambat.
  • PK: Nyoman pegawai yang baik.
  • S: Nyoman tidak pernah datang terlambat
  • Entimen: Nyoman tidak pernah datang terlambat karena ia pegawai yang baik
  1. BERFIKIR INDUKTIF

Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.

Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum. Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum(filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005)

Ada 3 macam penalaran Induktif :

  1. Generalisasi, Merupakan penarikan kesimpulan umum dari pernyataan atau data-data yang ada. Dibagi menjadi 2 :
  2. Generalisasi Sempurna / Tanpa loncatan induktif. Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan. Contoh :
  • Sensus Penduduk.
  • Jika dipanaskan, besi memuai.
  • Jika dipanaskan, baja memuai.
  • Jika dipanaskan, tembaga memuai.
  • Jadi, jika dipanaskan semua logam akan memuai.

3.  Generalisasi Tidak Sempurna / Dengan loncatan induktif. Fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada. Contoh :

Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.

  1. Analogi.

Merupakan penarikan kesimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Pada analogi biasanya membandingkan 2 hal yang memiliki karakteristik berbeda namun dicari persamaan yang ada di tiap bagiannya.

Tujuan dari analogi :

  • Meramalkan kesamaan.
  • Mengelompokkan klasifikasi.
  • Menyingkapkan kekeliruan.

Contoh :

  • Ronaldo adalah pesepak bola.
  • Ronaldo berbakat bermain bola.
  • Ronaldo adalah pemain real madrid.
  1. Kausal

Merupakan proses penarikan kesimpulan dengan prinsip sebab-akibat. Terdiri dari 3 pola, yaitu :

  1. Sebab ke akibat= Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kesimpulan sebagai efek. Contoh : Karena terjatuh di tangga, Kibum harus beristirahat selama 6 bulan.
  2. Akibat ke sebab= Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kejadian yang dianggap penyebabnya. Contoh : Jari kelingking Leeteuk patah karena memukul papan itu.
  3. Akibat ke akibat= Dari satu akibat ke akibat lainnya tanpa menyebutkan penyebabnya.

Daftar Pustaka:

https://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran

http://nurii-thaa.blogspot.co.id/2014/03/konsep-penalaran-ilmiah-dalam-penulisan.html

https://thekicker96.wordpress.com/penalaran-deduktif/

http://tulisanyangsederhana.blogspot.co.id/2015/03/berfikir-deduktif.html

Iklan